Geological

Non Geological

Educational

Geopark Gunung Sewu Gunung Kidul

Video Dokumenter Geopark Gunung Sewu

GUNUNGSEWU : KAWASAN TAMAN BUMI GLOBAL

Oleh : Sari Bahagiarti Kusumayudha

Dosen Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta

Bumi memang planet yang istimewa. Di Bumi tersedia segala macam sumberdaya alam yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Meskipun demikian Bumi yang indah ini acapkali diganggu dan dirusak oleh kepentingan sesaat yang bersifat lokal. Ketika manusia mulai menyadari betapa hanya bumi tempat yang paling nyaman untuk hidup, maka kesadaran untuk menyelamatkan dan menjaga agar dayadukungnya tetap berlanjut mulai tumbuh. Di sisi lain, manusia tidak mungkin hidup tanpa mengambil kekayaan yang dikandung oleh Bumi. Maka muncullah konsep bagaimana memanfaatkan namun sekaligus melestarikan kekayaan bumi, salah satunya dengan membangun geopark.

Salah satu geopark (taman bumi) yang menjadi kebanggaan Indonesia adalah Gunungsewu. Gunungsewu dikenal sebagai kawasan karst Tropik, melampar di wilayah tiga kabupaten dan tiga provinsi, yaitu Kabupaten Gunung Kidul DIY, Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah, dan Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Luasnya lebih kurang 1500 km2, saat ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit yang mudah dijangkau baik dari Yogyakarta, Wonosari, Wonogiri, maupun Pacitan. Keistimewaan kawasan ini adalah keragaman pemandangan alam, fenomena geomorfologi, hidrogeologi, dan warisan-warisan geologi yang berkualitas sehingga mendukungnya sebagai sebuah tamanbumi (geopark) berskala global.

Taman bumi (geopark) bukanlah sekedar taman nasional. Jika sebuah taman nasional mutlak harus dilindungi dan dilestarikan baik isi maupun wadahnya, maka konsep taman bumi pada dasarnya merupakan promosi warisan geologi yang perlu dibangun sekaligus dilestarikan untuk sebesar-besarnya kemanfaatan umat. Dengan kata lain, konsep taman bumi adalah pembangunan suatu kawasan secara berkesinambungan berbasis pelestarian warisan geologi. Di dalam pengelolaannya perlu melibatkan ranah riset dan pendidikan., juga ditujukan untuk menstimulasi kegiatan perekonomian dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Pada prinsipnya tidak perlu seluruh wilayah geopark dikonservasi (secara legal), oleh karena itu, di dalam suatu kawasan taman bumi, bisa saja didapatkan sentra industri, bahkan daerah pertambangan. Meskipun demikian, situs-situs penting yang ada, harus dilindungi.

Di Gunungsewu terdapat berbagai jenis batuan, sedimen, dan beku berumur jutaan tahun, berbagai fosil yang berasosiasi dengan kehidupan laut dangkal, antara lain ganggang, koral dan foraminifera besar, berbagai struktur sedimen, seperti laminasi parallel, graded bedding, bioturbasi, fossilifeous, dan cross bedding, juga struktur geologi yaitu kekar, sesar, dan sinklin. Keanekaragaman geomorfologi dari skala kecil hingga skala mega merupakan hasil pahatan alam, berupa bukit-bukit berbentuk kerucut, kubah, dan punggungan. Di sisi lain, morfologi negatif berupa dolina, uvala, polje, luweng dan lokva atau dalam bahasa lokal dikenal sebagai telaga, serta lembah tak beraturan.

Kubah-kubah Karst Gunung Sewu 

Di bagian selatan Gunungsewu berderet pantai yang indah yang saat ini menjadi primadona pariwisata di wilayah yang berada di Gunungsewu. Kombinasi antara pantai berbatu, karang yang tegak, pesisir berpasir putih, dan kehidupan terumbu. dari Barat ke Timur, mulai dari wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Wonogiri, dan Kabupaten Pacitan.

Pantai Sembukan di Kecamatan Paranggupito, Wonogiri

Daerah Gunungsewu juga merupakan representasi sistem hidrogeologi karst yang spesifik dan unik. Banyak sungai-sungai bawah tanah. Selain itu, banyak mata-air dijumpai di sepanjang pantai Selatan. Ratusan gua baik kering maupun berair dapat dijumpai di daerah Gunungsewu, dengan ornamen dalam bentuk stalaktit, stalagmit, tiang kapur, flow stone, sinder dan sebagainya.

Dengan potensi geologi yang ada, ditunjang oleh keanekaragaman hayati dan budaya setempat, Gunungsewu yang telah ditetapkan sebagai taman bumi global atau GGN (Global geopark Network) versi Unesco. Sebagai warga Negara Indonesia, khususnya yang tinggal di Kabupaten Wonogiri, kita patut berbangga, mendukung, dan menjaga capaian ini. Dampak positif sebuah taman bumi adalah perkembangan perekonomian masyarakat diharapkan meningkat melalui sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan baik local maupun internasional akan meningkat. Hal ini perlu diimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungannya.

10 UNESCO GLOBAL GEOPARK DI INDONESIA

BUMPER GUNUNGSEWU GLOBAL GEOPARK

SEJARAH GUNUNG SEWU UNESCO GLOBAL GEOPARK

Persiapan pembangunan Geopark di Pacitan dengan tema bentangalam kars (penelitian, sosialisasi, penetapan kawasan sebagai ekokars, pembangunan museum kars di Wonogiri); termasuk misi pernasehatan oleh Prof. Ibrahim Komoo dan Prof. Tjia HD.

Pembentukan Geopark Nasional Pacitan.

Pengajuan calon Geopark Global dan penilaian oleh Jaringan Geopark Global (Prof. Patrick McKeever & Prof. Ibrahim Komoo); pengajuan ditolak dan direkomendasikan untuk memperluas kawasan Geopark hingga mencakup seluruh ekosistem Kars Gunung Sewu.

Pembangunan Geopark Gunung Sewu; termasuk penetapan perlindungan kawasan dalam bentuk Kawasan Bentang Alam Kars di Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Pacitan, misi pernasehatan dari Jaringan Geopark Global (Dr. Guy Martini), pembentukan pengelola Geopark melalui surat keputusan bersama 3 bupati, dan sosialisasi kepada semua pemangku kepentingan.

Penetapan Geopark Nasional Gunung Sewu dan penyusunan proposal calon Geopark Global; termasuk kunjungan presiden dan para menteri ke Pacitan.

Penentuan 3 situs warisan geologi (Nglanggeran, Kali Ngalang, Siung-Wediombo) sebagai Cagar Alam Geologi, pembangunan Pusat Informasi Geopark di Pacitan, misi pernasehatan dari Jaringan Geopark Global (Prof. Ibrahim Komoo), dan penilaian Geopark oleh Dr. Kristin Rangnes.

Kesepakatan Bersama antara 3 menteri (Kementerian Energi & Sumberdaya Mineral, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan), 3 gubernur (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur) dan 3 bupati (Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Pacitan) tentang pembangunan berkelanjutan di Geopark Gunung Sewu, serta penetapan Gunung Sewu sebagai Geopark Global UNESCO setelah mengalami penundaan selama 6 bulan.

Promosi Geopark Global UNESCO Gunung Sewu melalui berbagai kegiatan, serta pembangunan Pusat Informasi Geologi di Patuk dan Ngingrong (Gunungkidul).

Gunung Sewu akan menjalani revalidasi pertamanya sebagai Geopark Global UNESCO.

Kunjungan kerja Tim Pre Assessment Revalidasi II Gunung Sewu UNESCO Global Geopark (Kemenkomarvest, Bappenas, Badan Geologi, BRIN, Komite Nasional Geopark Indonesia). Selasa s.d.  Sabtu, (11-15) April 2023 meninjau kesiapan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark untuk persiapan Revalidasi II Gunung Sewu UNESCO Global Geopark.

Gallery

id_IDIndonesian